Lingkungan sekolah, khususnya di institusi kejuruan, sering kali memiliki tradisi hirarki yang sangat kuat. Namun, ketika hirarki tersebut berubah menjadi relasi kuasa yang intimidatif, maka diperlukan sebuah koreksi sikap yang mendasar untuk menyelamatkan ekosistem belajar. Hubungan antara senior dan junior seharusnya didasarkan pada prinsip mentoring dan bimbingan, bukan pada tekanan mental atau fisik yang sering kali berlindung di balik kata “disiplin”. Memperbaiki hubungan ini bukan hanya soal menghapus perundungan, tetapi tentang membangun budaya profesionalisme sejak dini agar siswa siap menghadapi dunia kerja yang kolaboratif.
Masalah utama dalam hubungan senioritas yang toksik adalah adanya miskonsepsi mengenai rasa hormat. Banyak senior yang merasa bahwa rasa hormat harus didapatkan melalui rasa takut, sementara junior merasa tertekan dan tidak berani mengekspresikan ide atau bertanya saat mengalami kesulitan teknis. Ketegangan ini menciptakan jarak sosial yang menghambat proses transfer ilmu. Di dunia industri nyata, kolaborasi antar generasi adalah kunci inovasi; jika di sekolah siswa sudah terbiasa dengan pola komunikasi yang kaku dan penuh tekanan, mereka akan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kerja modern yang lebih mengutamakan meritokrasi dan kerja tim yang setara.
Langkah koreksi harus dimulai dengan restrukturisasi kegiatan kesiswaan. Sekolah perlu mengalihkan energi senioritas dari kegiatan yang bersifat “penggojlokan” menuju program peer tutoring atau tutor sebaya. Dalam program ini, senior diberikan tanggung jawab sebagai asisten instruktur yang bertugas membantu junior dalam menguasai keterampilan teknis tertentu. Dengan cara ini, senior mendapatkan ruang untuk menunjukkan kepemimpinan mereka secara positif, sementara junior merasa didukung dan dihargai. Perubahan peran dari “penguasa” menjadi “pembimbing” akan secara otomatis memperbaiki persepsi junior terhadap senior mereka, mengubah ketakutan menjadi rasa kagum dan keinginan untuk belajar.
Selain itu, peran guru dan manajemen sekolah sangat vital dalam mengawasi dinamika ini. Perlu ada aturan yang jelas dan sanksi yang tegas terhadap segala bentuk intimidasi, namun di sisi lain, sekolah juga harus menyediakan ruang diskusi di mana senior dan junior bisa berinteraksi dalam suasana yang santai dan tidak formal. Pendidikan karakter yang menekankan pada empati dan komunikasi asertif harus menjadi bagian dari kurikulum harian. Ketika kedua belah pihak memahami bahwa mereka berada di bawah atap yang sama untuk satu tujuan mulus—yaitu menjadi tenaga kerja kompeten—maka egosektoral akan luntur. Hubungan yang harmonis antara senior dan junior akan menciptakan lingkungan sekolah yang aman secara psikologis, yang pada akhirnya akan mendongkrak prestasi akademik dan kreativitas seluruh siswa.
